iced melon juice and milo dinosaurus

Bagaimana Membangun Passive Income Dari Shutterstock

Ada banyak cara cari rejeki dari dunia fotografi. Beberapa yg paling populer antara lain: wedding photography, atau food photography, atau jadi jurnalis/wartawan. Tapi pernah tau nggak kalo kita bisa jualan jasa foto lewat microstock photography?

Apa itu microstock photography? Kenapa di judul ada tulisan passive income? Gimana aturan mainnya? Mari kita bahas satu satu…

Microstock Photography

Menurut kutipan wikipedia, definisi microstock photography seperti ini:

Microstock photography, also known as micropayment photography, is a part of the stock photography industry. What defines a company as a microstock photography company is that they (1) source their images almost exclusively via the Internet, (2) do so from a wider range of photographers than the traditional stock agencies (including a willingness to accept images from “amateurs” and hobbyists), and (3) sell their images at a very low rate (from US$0.20 to $10 in the US) for a royalty-free (RF) image.

Jadi kira2 melalui lapak2 microstock itu kita bisa nitip jualan foto karya kita, dengan harga yg sangat murah. Foto2 itu nanti boleh digunakan pembeli untuk kepentingan komersial mereka. Ada juga sih kategori foto editorial, tapi soal komersial/editorial ini dibahas belakangan aja.

Passive Income

Nah kemudian gimana ceritanya foto2 di lapak microstok bisa jadi passive income?

Misalnya gini, kita bekerja sebagai food photographer, mendapat job motret makanan untuk buku menu suatu restoran. Maka karya foto kita itu kemudian eksklusif jadi milik restoran. Kita sudah nggak bisa lagi menggunakan foto2 itu untuk kepentingan komersial lain. Harga foto itu mungkin lumayan mahal, tapi sudah selesai sampai situ aja.

Beda dengan foto2 yg kita titip jualkan via lapak2 microstock. Foto2 disana bisa dibeli berkali2 oleh sejumlah customer yg berbeda. Misalnya foto kemacetan jalan, potensial dibeli perusahaan kereta untuk kepentingan bisnis mereka, kemudian foto yg sama juga bisa dibeli developer jalan tol untuk foto ilustrasi di proposal mereka, atau mungkin juga dibeli kantor berita untuk melengkapi liputan mudik lebaran. Dan kalo mbahas stok foto mudik lebaran, foto2 demikian itu sama dengan foto2 17 agustusan atau foto kembang api tahun baruan atau foto pohon natal yg punya potensi rutin dibeli berulang2, setiap tahun.

Nah itulah kenapa ketika istri saya minta tolong dibantu foto2 untuk urusan komersial review restoran/cafe, saya menambahkan beberapa jepretan foto untuk di-keep sendiri. Beberapa foto ekstra ini perlu dipastikan tidak mengandung logo, brand restoran atau label makanan yg potensial jadi isu copyright di belakang hari. Jadi dengan demikian kita bisa cari duit dobel dari satu kali kerja motret.

Foto Seperti Apa Yang Bisa Dijual?

Foto apapun. Kita nggak pernah tau kebutuhan calon customer seperti apa. Bahkan foto2 yg menurut kita jelek, nggak layak dipamerkan, bisa jadi dibutuhkan orang lain.

Salah satu contohnya, saya pernah terbangun tengah malam dan kelaparan. Bisa ditebak, masak mie instan. Tapi sebelum dimakan, difoto dulu dong. Buat update story di instagram? Buat diupload ke shuttterstock lah. Setelah itu mau nyetory di instagram ya terserah.

Foto mie instan di dalam gelap? Apa bagusnya? Emangnya ada orang bersedia keluar duit buat beli foto begituan? Jangan salah, foto2 semacam itu bisa dibeli LSM2 untuk ilustrasi kampanye gaya hidup sehat, atau untuk materi iklan perusahaan farmasi pembuat obat anti obesitas. Atau untuk kepentingan lain, yg sama sekali nggak kepikiran sebelumnya.

Jadi foto seperti apa yg bisa dijual di lapak2 microstock? Foto apapun. Upload aja sebanyak2nya, sapa tau ada yg beli. Toh kita nggak rugi apa2 kalo kita nitip ‘buang sampah’ digital disana. Ya anggep aja buang sampah digital, daripada menjejali storage henfon, kemudian didelete karena storage menipis.

Jualan foto via lapak microstok ini bisnis gaya rambo, bukan sniper. Quality over quantity. Soal standar kualitas foto yg layak dijual itu nanti didelegasikan ke pihak kurator. Catatan: tidak semua foto yg kita upload itu langsung dipamerkan di etalase. Nggak gitu aturan mainnya. Foto2 akan diseleksi dulu, ada pihak yg memeriksa secara teknis apakah fotonya fokus atau blur, apakah pencahayaan cukup baik atau terlalu gelap, apakah foto cukup bersih atau banyak noise, dst.

Kalo foto kita sudah lolos proses kurasi, berarti kualitas foto kita memang cukup baik untuk dijual.

Foto2 yg pernah diikutkan lomba, kemudian kalah, juga tetap punya potensi mendatangkan uang. Contohnya foto di bawah ini:

Foto ini karya guru saya mas Misbachul Munir. Pernah diikutkan lomba, dan kalah. Foto yg kalah lomba itu bukan berarti foto jelek lho, foto itu kalah karena nggak cocok sama selera juri. Ketika foto ini dijual via shutterstock, ternyata banyak yg suka dan laris dibeli. Jadi sekali lagi upload aja sebanyak2nya. Kemudian tinggal nunggu notifikasi penjualan.

Jadi Gimana Caranya Jualan Foto?

FYI: lapak2 microstock photography itu sangat banyak. Beberapa yg populer antara lain:

Di artikel ini kita bahas shutterstock aja dulu ya. Karena shutterstock ini sangat populer dan traffic jual belinya lumayan tinggi. Harganya nggak mahal sih di shutterstock, tapi pilihan yg bagus buat start jualan foto. Selanjutnya lapak2 microstok lain bisa dicoba dewe2 lah.

Untuk bisa jualan di shutterstock, pastikan dulu sudah punya akun paypal. Karena kalo foto sudah terjual nanti pembayarannya via paypal. Balik ke shutterstock, pertama ya harus daftar dulu jadi shutterstock contributor. Daftar disini:

https://submit.shutterstock.com

Selanjutnya ngisi form profil / identitas diri. Form ini sangat banyak isiannya, sebaiknya dikerjain via browser laptop aja, jangan browser henfon. Karena browser henfon itu sempit.

Kalo sudah daftar, coba upload foto via browser di laptop itu. Isi semua deskripsi foto, kategori foto, keywords segala macam. Semua harus dalam bahasa inggris. Deskripsi foto maksimal 200 karakter. Untuk keyword, kita harus ngasih minimal 7 keywords, maksimalnya 50. Saran saya masukkan keyword sebanyak mungkin, kalo bisa penuhi semua 50 slot itu. Semakin banyak kata kunci semakin besar peluang foto kita kecantol di query calon pembeli.

Masalahnya mencari 50 keyword itu bukan hal gampang. Otak kita kira2 bisa cepat memikirkan 10 atau 15 keyword, kalo bisa 20 itu sangat bagus. Lha gimana caranya cari 50? Manfaatkan fasilitas keyword suggestion tool. Mesin akan menampilkan sejumlah foto yg kira2 mirip dg foto kita, kita pilih minimal 3 foto yg paling mirip, kemudian mesin akan ngasih saran keyword apa saja yg cocok.

Kalo semua sudah lengkap, submit. Kemudian kita tunggu hasil kerja kurator. Apakah foto itu approved atau rejected. kalo ditolak, kurator akan ngasih tau masalahnya dimana? Jadi kita bisa pelajari kesalahannya, kemudian upload foto lain yg kira2 nggak bermasalah. Kalo foto lolos kurasi, berarti foto sudah layak dijual. Tinggal berdoa dan nunggu notifikasi penjualan.

Kalo foto yg kita submit di-reject, itu adalah hal biasa. Kalo banyak yg di-reject, itu juga nggak masalah. Yang jadi masalah itu kalo kita putus asa, nggak mau upload foto lagi. Mas Misbachul Munir berpesan dalam kelasnya:

Kalo belum submit 1000 foto belum boleh sambat.

Jadi upload aja terus sebanyak2nya. Nanti kalo sudah ada 1000 foto approved dalam portfolio kita, dan belum ada yg terjual sama sekali, baru boleh diteliti bersama2 masalahnya apa. Pengalaman saya pribadi sih sudah ada foto yg terjual ketika belum ada 50 foto yg approved di portfolio.

Kira2 gitu caranya jualan foto via situs microstock photography. Coba shutterstock aja lah dulu. Kalo sudah tau aturan main di shutterstock boleh lah coba2 pelajari cara jualan di situs2 microstock lainnya.

10 thoughts on “Bagaimana Membangun Passive Income Dari Shutterstock”

  1. Bener ini…

    Saya juga lagi coba jualin foto2 (yang gak kepake itu) hehe..
    Memang benar si SS itu harganya murah2 tapi ya daripada fotonya gak jadi apa2.

    1. Sama, aku juga memanfaatkan microstock buat tempat buang sampah digital, sapa tau bisa didaur ulang jadi dollar. Beberapa foto yg pernah ikut lomba, dan kalah, ternyata laku dibeli disana.

  2. Wah, saya belum pernah memanfaatkan microstock buat foto2 saya, kayak nya menarik sekali bisnis ini. Udah lama sih dengar, cuma baru terbuka nih skerarang. Aku mau coba-coba juga jualan di microstock siapa tahu laku daripada foto2 nya cuma jadi sampah di hardisk kita. Thank’s buat artikel dan tips nya.

    1. Foto2 dari potret juga bisa dijual. Lha wong syaratnya minimal 4 megapixel saja kok. Fotoku nasi goreng pinggir jalan laku dibeli orang, haha.

  3. Ketika saya masih kerja, kantor saya melanggani Shutterstok. Kami butuh aset berupa foto, ilustrasi tangan, dan vector. Ketika memilih aset, saya memgutamakan yang Asia. Ya wajah, ya atmosfer.

    Untuk foto dalam infografik, saya mencantumkan nama fotografer juga. Ini sbg bentuk apresiasi, meski kami pengguna legal karena membayar.

    Saya nggak tahu apakah teman lain – krn paket pelangganan Shutterstok membolehkan pengguna ada bbrp orang – ambil foto karya Cak Fahmi. Kalo saya, sejauh saya ingat, belum pernah.

Leave a Reply to Antyo® Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.